Selasa, 10 April 2012

Borobudur hasil karya Spektakuler arsitektur Indonesia




Borobudur pembangunan nya di rancang oleh arsitek Gunadharma adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 M oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra. Borobudur merupakan bangunan candi yang sangat megah. Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit. Bahkan dengan kecanggihan yang ada pada masa kini, sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai candi Borobudur. Borobudur juga mengadopsi Konsep Fraktal. Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan. Candi borobudur sendiri adalah stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidakberhinggaan. Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa Spektakuler.
Informasi Bangunan


Lokasi         dekat Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah
Negara                  : Indonesia
Koordinat             : 7.608°LS 110.204°BTKoordinat: 7.608°LS 110.204°BT
Arsitek                 : Gunadharma
Klien                              : Raja Syailendra
Awal Konstruksi : sekitar 770 Masehi
Penyelesaian         sekitar         :  825 Masehi
Sistem structural  : piramida berundak dari susunan blok batu andesit yang saling mengunci
Jenis stupa and candi
Ukuran                 : luas dasar 123×123 meter, tinggi kini 35 meter, tinggi asli 42 meter (termasuk chattra)

Konsep rancang bangun
Pada hakikatnya Borobudur adalah sebuah stupa yang bila dilihat dari atas membentuk pola Mandala besar. Mandala adalah pola rumit yang tersusun atas bujursangkar dan lingkaran konsentris yang melambangkan kosmos atau alam semesta yang lazim ditemukan dalam Buddha aliran Wajrayana-Mahayana. Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana yang secara bersamaan menggambarkan kosmologi yaitu konsep alam semesta, sekaligus tingkatan alam pikiran dalam ajaran Buddha.[49] Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha. Dasar denah bujur sangkar berukuran 123 m (400 kaki) pada tiap sisinya. Bangunan ini memiliki sembilan teras, enam teras terbawah berbentuk bujur sangkar dan tiga teras teratas berbentuk lingkaran.


Pada tahun 1885, secara tidak disengaja ditemukan struktur tersembunyi di kaki Borobudur.[32] Kaki tersembunyi ini terdapat relief yang 160 diantaranya adalah berkisah tentang Karmawibhangga. Pada relief panel ini terdapat ukiran aksara yang merupakan petunjuk bagi pengukir untuk membuat adegan dalam gambar relief.[50] Kaki asli ini tertutup oleh penambahan struktur batu yang membentuk pelataran yang cukup luas, fungsi sesungguhnya masih menjadi misteri. Awalnya diduga bahwa penambahan kaki ini untuk mencegah kelongsoran monumen.[50] Teori lain mengajukan bahwa penambahan kaki ini disebabkan kesalahan perancangan kaki asli, dan tidak sesuai dengan Wastu Sastra, kitab India mengenai arsitektur dan tata kota.[32] Apapun alasan penambahan kaki ini, penambahan dan pembuatan kaki tambahan ini dilakukan dengan teliti dengan mempertimbangkan alasan keagamaan, estetik, dan teknis.
Ketiga tingkatan ranah spiritual dalam kosmologi Buddha adalah:

Kamadhatu

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian kaki asli yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 160 panel cerita Karmawibhangga yang kini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan di sudut tenggara disisihkan sehingga orang masih dapat melihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini memiliki volume 13.000 meter kubik.[2]


Rupadhatu
Empat undak teras yang membentuk lorong keliling yang pada dindingnya dihiasi galeri relief oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu terdiri dari empat lorong dengan 1.300 gambar relief. Panjang relief seluruhnya 2,5 km dengan 1.212 panel berukir dekoratif. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk atau relung dinding di atas pagar langkan atau selasar. Aslinya terdapat 432 arca Buddha di dalam relung-relung terbuka di sepanjang sisi luar di pagar langkan.[2] Pada pagar langkan terdapat sedikit perbedaan rancangan yang melambangkan peralihan dari ranah Kamadhatu menuju ranah Rupadhatu; pagar langkan paling rendah dimahkotai ratna, sedangkan empat tingkat pagar langkan diatasnya dimahkotai stupika (stupa kecil). Bagian teras-teras bujursangkar ini kaya akan hiasan dan ukiran relief.


Arupadhatu
Berbeda dengan lorong-lorong Rupadhatu yang kaya akan relief, mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Pada pelataran lingkaran terdapat 72 dua stupa kecil berterawang yang tersusun dalam tiga barisan yang mengelilingi satu stupa besar sebagai stupa induk. Stupa kecil berbentuk lonceng ini disusun dalam 3 teras lingkaran yang masing-masing berjumlah 32, 24, dan 16 (total 72 stupa). Dua teras terbawah stupanya lebih besar dengan lubang berbentuk belah ketupat, satu teras teratas stupanya sedikit lebih kecil dan lubangnya berbentuk kotak bujur sangkar. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Buddha itu ada tetapi tak terlihat.


Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga Buddha yang tidak rampung, yang disalahsangkakan sebagai patung 'Adibuddha', padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung di dalam stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. Menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini. Stupa utama yang dibiarkan kosong diduga bermakna kebijaksanaan tertinggi, yaitu kasunyatan, kesunyian dan ketiadaan sempurna dimana jiwa manusia sudah tidak terikat hasrat, keinginan, dan bentuk serta terbebas dari lingkaran samsara.
Struktur bangunan
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk membangun monumen ini.[51] Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati" yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.

Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan curah hujan yang tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing dengan rancangan yang unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.

Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Borobudur mungkin pada awalnya berfungsi lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi.[51] Stupa memang dimaksudkan sebagai bangunan suci untuk memuliakan Buddha. Terkadang stupa dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan kepada Buddha. Sementara kuil atau candi lebih berfungsi sebagai rumah ibadah. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa bangunan ini memang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur teras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Menurut legenda setempat arsitek perancang Borobudur bernama Gunadharma, sedikit yang diketahui tentang arsitek misterius ini.[52] Namanya lebih berdasarkan dongeng dan legenda Jawa dan bukan berdasarkan prasasti bersejarah. Legenda Gunadharma terkait dengan cerita rakyat mengenai perbukitan Menoreh yang bentuknya menyerupai tubuh orang berbaring. Dongeng lokal ini menceritakan bahwa tubuh Gunadharma yang berbaring berubah menjadi jajaran perbukitan Menoreh, tentu saja legenda ini hanya fiksi dan dongeng belaka.

Perancangan Borobudur menggunakan satuan ukur tala, yaitu panjang wajah manusia antara ujung garis rambut di dahi hingga ujung dagu, atau jarak jengkal antara ujung ibu jari dengan ujung jari kelingking ketika telapak tangan dikembangkan sepenuhnya.[53] Tentu saja satuan ini bersifat relatif dan sedikit berbeda antar individu, akan tetapi satuan ini tetap pada monumen ini. Penelitian pada 1977 mengungkapkan rasio perbandingan 4:6:9 yang ditemukan di monumen ini. Arsitek menggunakan formula ini untuk menentukan dimensi yang tepat dari suatu fraktal geometri perulangan swa-serupa dalam rancangan Borobudur.[53][54] Rasio matematis ini juga ditemukan dalam rancang bangun Candi Mendut dan Pawon di dekatnya. Arkeolog yakin bahwa rasio 4:6:9 dan satuan tala memiliki fungsi dan makna penanggalan, astronomi, dan kosmologi. Hal yang sama juga berlaku di candi Angkor Wat di Kamboja.[52]

Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak.[52] Dasar berukuran 123×123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 m (13 kaki).[51] Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 m (23 kaki) dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 m (6.6 kaki), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Terdapat stupa utama yang terbesar di tengah; dengan pucuk mencapai ketinggian 35 m (110 kaki) dari permukaan tanah. Tinggi asli Borobudur termasuk chattra (payung susun tiga) yang kini dilepas adalah 42 m (140 kaki) . Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa. Gawang pintu gerbang dihiasi ukiran Kala pada puncak tengah lowong pintu dan ukiran makara yang menonjol di kedua sisinya. Motif Kala-Makara lazim ditemui dalam arsitektur pintu candi di Jawa. Pintu utama terletak di sisi timur, sekaligus titik awal untuk membaca kisah relief. Tangga ini lurus terus tersambung dengan tangga pada lereng bukit yang menghubungkan candi dengan dataran di sekitarnya.
Relief
Pada dinding candi di setiap tingkatan — kecuali pada teras-teras Arupadhatu — dipahatkan panel-panel bas-relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus.[55] Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.[56] Relief Borobudur juga menerapkan disiplin senirupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari atapun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.[57]

Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur.[58] Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan kebudayaan bahari purbakala. Replika bahtera yang dibuat berdasarkan relief Borobudur tersimpan di Museum Samudra Raksa yang terletak di sebelah utara Borobudur.[59]

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.

Bagan Relief


Tingkat
Posisi/letak
Cerita Relief
Jumlah Pigura
Kaki candi asli
-----
Karmawibhangga
160

dinding
a. Lalitawistara
120
Tingkat I

b. jataka/awadana
120

langkan
a. jataka/awadana
372


b. jataka/awadana
128
Tingkat II
dinding
Gandawyuha
128

langkan
jataka/awadana
100
Tingkat III
dinding
Gandawyuha
88

langkan
Gandawyuha
88
Tingkat IV
dinding
Gandawyuha
84

langkan
Gandawyuha
72

Jumlah

1460

 
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung. Foto lengkap relief Karmawibhangga dapat disaksikan di Museum Karmawibhangga di sisi utara candi Borobudur.

Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
Arca Buddha
Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi teratai serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu. Patung buddha dengan tinggi 1,5 meter ini dipahat dari bahan batu andesit.[2]

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu.[1] Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa.[1] Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).[60]

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.[61]

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:




Jumat, 06 April 2012

Prahara Singhasari Ken Arok Kah Pembunuh Tunggul Ametung


Bandingkan kedua tulisan Berikut  kira kira mana yang Benar
Keris Mpu Gandring adalah senjata pusaka yang terkenal dalam riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur sekarang. Keris ini terkenal karena kutukannya yang memakan korban dari kalangan elit Singasari termasuk pendiri dan pemakainya, ken Arok.
Keris ini dibuat oleh seorang pandai besi yang dikenal sangat sakti yang bernama Mpu Gandring, atas pesanan Ken Arok, salah seorang tokoh penyamun yang menurut seorang brahmana bernama Lohgawe adalah titisan wisnu. Ken Arok memesan keris ini kepada Mpu Gandring dengan waktu satu malam saja, yang merupakan pekerjaan hampir mustahil dilakukan oleh para "mpu" (gelar bagi seorang pandai logam yang sangat sakti) pada masa itu. Namun Mpu Gandring menyanggupinya dengan kekuatan gaib yang dimilikinya. Bahkan kekuatan tadi "ditransfer" kedalam keris buatannya itu untuk menambah kemampuan dan kesaktian keris tersebut.
Setelah selesai menjadi keris dengan bentuk dan wujud yang sempurna bahkan memiliki kemampuan supranatural yang konon dikatakan melebihi keris pusaka masa itu. Mpu Gandring menyelesaikan pekerjaannya membuat sarung keris tersebut. Namun belum lagi sarung tersebut selesai dibuat, Ken Arok datang mengambil keris tersebut yang menurutnya sudah satu hari dan haris diambil. Kemudian Ken Arok menguji Keris tersebut dan terakhir Keris tersebut ditusukkannya pada Mpu Gandring yang konon menurutnya tidak menepati janji (karena sarung keris itu belum selesai dibuat) selebihnya bahkan dikatakan untuk menguji kemampuan keris tersebut melawan kekuatan supranatural si pembuat keris (yang justru disimpan dalam keris itu untuk menambah kemampuannya). Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwa Keris tersebut akan meminta korban nyawa tujuh turunan dari Ken Arok. Dalam perjalanannya, keris ini terlibat dalam perselisihan dan pembunuhan elit kerajaan
Terbunuhnya Tunggul Ametung
Tunggul Ametung, kepala daerah Tumapel (cikal bakal Singhasari) yang saat itu adalah bawahan dari Kerajaan Kadiri yang saat itu diperintah oleh Kertajaya yang bergelar "Dandang Gendis" (raja terakhir kerajaan ini). Tumapel sendiri adalah pecahan dari sebuah kerajaan besar yang dulunya adalah Kerajaan Jenggala yang dihancurkan Kadiri, dimana kedua-duanya awalnya adalah satu wilayah yang dipimpin oleh Airlangga.

Ken Arok membunuh Tunggul Ametung untuk mendapatkan istrinya yang cantik, Ken Dedes. Ken Arok sendiri saat itu adalah pegawai kepercayaan dari Tunggul Ametung yang sangat dipercaya. Latar belakang pembunuhan ini adalah karena Ken Arok mendengar dari Brahmana Lohgawe bahwa "barang siapa yang memperistri Ken Dedes akan menjadi Raja Dunia".
Sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, keris ini dipinjamkan kepada rekan kerjanya, yang bernama Kebo Ijo yang tertarik dengan keris itu dan selalu dibawa-bawanya kemana mana untuk menarik perhatian umum. Bagi Ken Arok sendiri, peminjaman keris itu adalah sebagai siasat agar nanti yang dituduh oleh publik Tumapel adalah Kebo Ijo dalam kasus pembunuhan yang dirancang sendiri oleh Ken Arok. Siasatnya berhasil dan hampir seluruh publik Tumapel termasuk beberapa pejabat percaya bahwa Kebo Ijo adalah tersangka pembunuhan Tunggul Ametung. Ken Arok yang saat itu adalah orang kepercayaan Tunggul Ametung langsung membunuh Kebo Ijo yang konon, dengan keris pusaka itu.
Terbunuhnya Ken Arok
Setelah membunuh Tunggul Ametung, Ken Arok mengambil jabatannya, memperistri Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung dan memperluas pengaruh Tumapel sehingga akhirnya mampu menghancurkan Kerajaan Kediri. Ken Arok sendiri akhirnya mendirikan kerajaan Singhasari.
Rupanya kasus pembunuhan ini tercium oleh Anusapati, anak Ken Dedes dengan ayah Tunggul Ametung. Anusapati, yang diangkat anak oleh Ken Arok mengetahui semua kejadian itu dari ibunya, Ken Dedes dan bertekat untuk menuntut balas. Anusapati akhirnya merancang pembalasan pembunuhan itu dengan menyuruh seorang pendekar sakti kepercayaannya, Ki Pengalasan.
Pada saat menyendiri di kamar pusaka kerajaan, Ken Arok mengamati pusaka kerajaan yang dimilikinya. Salah satu pusaka yang dimilikinya adalah keris tanpa sarung buatan Mpu Gandring yang dikenal sebagai Keris Mpu Gandring. Melihat ceceran darah pada keris tersebut, ia merasa ketakutan terlebih lebih terdengar suara ghaib dari dalam keris tersebut yang meminta tumbal. Ia ingat kutukan Mpu Gandring yang dibunuhnya, dan serta merta mebantingnya ke tanah sampai hancur berkeping-keping. Ia bermaksud memusnahkannya. Namun ternyata keris tersebut melayang dan menghilang. Sementara Anusapati dan Ki Pengalasan merancang pembunuhan tersebut, tiba-tiba keris tersebut berada di tangan Anusapati. Anusapati menyerahkan keris kepada Ki Pengalasan yang menurut bahasa sekarang, bertugas sebagai "eksekutor" terhadap Ken Arok. Tugas itu dilaksanakannya, dan untuk menghilangkan jejak, Anusapati membunuh Ki Pengalasan dengan keris itu.
Terbunuhnya Anusapati
Anusapati mengambil alih pemerintahan Ken Arok, namun tidak lama. Karena Tohjaya, Putra Ken Arok dari Ken Umang akhirnya mengetahui kasus pembunuhan itu. Dan Tohjaya pun menuntut balas.
Tohjaya mengadakan acara Sabung Ayam kerajaan yang sangat digemari Anusapati. Ketika Anusapati lengah, Tohjaya mengambil keris Mpu Gandring tersebut dan langsung membunuhnya di tempat. Tohjaya membunuhnya berdasarkan hukuman dimana Anusapati diyakini membunuh Ken Arok. Setelah membunuh Anusapati, Tohjaya mengangkat dirinya sebagai raja menggantikan Anusapati.
Tohjaya sendiri tidak lama memerintah. Muncul berbagai ketidak puasan baik dikalangan rakyat dan bahkan kalangan elit istana yang merupakan keluarganya dan saudaranya sendiri, diantaranya Mahisa Campaka dan Dyah Lembu Tal. Ketidakpuasan dan intrik istana ini akhirnya berkobar menjadi peperangan yang menyebabkan tewasnya Tohjaya. Setelah keadaan berhasil dikuasai, tahta kerajaan akhirnya dilanjutkan oleh Ranggawuni yang memerintah cukup lama dan dikatakan adalah masa damai kerajaan Singashari. Sejak terbunuhnya Tohjaya, Keris Mpu Gandring hilang tidak diketahui rimbanya.

7 Turunan Ken Arok
Keris Mpu Gandring ini menurut beberapa sumber spritual sebenarnya tidak hilang. Dalam arti hilang musnah dan benar-benar tidak ketahuan keberadaannya. Pada bagian ini tak hendak membahas masalah itu. Pada bagian ini hendak mengajak para pembaca untuk sejenak menganalisa "keampuhan" atau "tuah" dari keris itu maupun pembuatnya (Mpu Gandring).
Di akhir hayatnya di ujung keris buatannya sendiri, Mpu Gandring mengutuk Ken Arok, bahwa keris itu akan menelan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Sekarang marilah kita hitung. Dalam sejarah ataupun legenda yang kita ketahui, ternyata hanya ada 6 (enam) orang yang terbunuh oleh Keris Mpu Gandring:

    Mpu Gandring, Sang Pembuat Keris.
    Kebo Ijo, rekan Ken Arok.
    Tunggul Ametung, Penguasa Tumapel saat itu.
    Ken Arok, Pendiri Kerajaan Singasari.
    Ki Pengalasan, pengawal Anusapati yang membunuh Ken Arok
    Anusapati, Anak Ken Dedes yang memerintah Ki Pengalasan membunuh Ken Arok.

Tohjaya, putera Ken Arok dari selirnya Ken Umang tidak terbunuh oleh keris ini, namun terluka oleh lembing, dan akhirnya tewas karena luka-lukanya.
Sudah enam nyawa meregang di ujung keris mpu Gandring. Tiga orang karena perebutan tahta yaitu Tunggul Ametung, Ken Arok, dan Anusapati. Ketiganya dijalin dalam ikatan darah dan perkawinan, tapi dikuasai dendam. Sedangkan tiga orang lainnya adalah pihak yang menjadi korban pengkhianatan yaitu mpu Gandring, Kebo Ijo,dan Ki Pengalasan.
Setelah membunuh Anusapati Tohjaya menobatkan dirinya menjadi raja ketiga Singosari mengantikan Anusapati. Peristiwa suksesi Tunggul Ametung dan Ken Arok memang diwarnai dengan pembunuhan. Tetapi pembunuhan itu walaupun sangat licik tetapi terselubung. Sedangkan pembunuhan Anusapati oleh Tohjaya dilakukan secara terang-terangan dan juga licik. Sehingga ketika berkuasa Tohjaya tidak disenangi oleh rakyatnya.
Tohjaya adalah anak Ken Arok dari istri keduanya yaitu Ken Umang. Dari Ken Dedes istri pertamanya mempunyai anak laki-laki lain ayah yaitu Anusapati yang sudah ia bunuh yang mempunyai anak laki-laki bernama Ranggawuni. Anak Ken Dedes dengan Ken Arok lainnya adalah Mahesa Wonga Teleng yang mempunyai anak laki-laki bernama Mahisa Campaka. Ranggawuni dan Mahisa Campaka adalah keponakan Tohjaya dari keturunan Ken Dedes. Keduanya sangat gagah dan tampan.
Tohjaya menyadari Ranggawuni dan Mahisa Campaka adalah bahaya laten terhadap tahtanya. Maka keduanya harus disingkirkan. Beberapa kerabat istana yang menginginkan kehidupan yang damai tidak menghendaki adanya pertumpahan darah lagi. Tohjaya lebih mementingkan kelangsungan tahtanya, ia tetap ingin menyingkirkan kedua keponkannya itu. Sikap tersebut menimbulkan kekecewaan dikalangan istana. Sehingga kewibawaan Tohjaya jatuh dimata rakyat maupun kalangan istana.
Tohjaya mempunyai pendukung setia dalam upaya menyingkirkan kedua keponakannya yaitu Pranaraja, menteri kepercayaannya. Menurut Pranaraja kedua keponakan itu bagaikan duri dalam daging yang akan mengerogoti tahta. Maka sang raja kemudian memanggil Lembu Ampal salah satu panglimanya untuk membunuh Ranggawuni dan Mahesa Campaka. Jika tidak berhasil membunuh maka Lembu Ampal sendiri yang akan dibunuh.
Melihat Raja Tohjaya yang tidak mau mendengar suara rakyat banyak dan hanya mendengarkan Pranaraja, banyak prajurit yang memihak kepada Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Lembu Ampal sendiri tidak mau membunuh keduanya, justru sebaliknya balik mendukung dan menyembunyikannya.
Ketidakpuasan rakyat dan intrik keluarga istana akhirnya tak terkendali, berkobar menjadi perang antara Tohjaya melawan kedua keponakannya Ranggawuni dan Mahesa Cempaka. Dalam peperangan tersebut Tohjaya kalah dan mati terbunuh juga dengan keris mpu Gandring. Tohjaya sangat singkat menduduki tahtanya, tidak sampai satu tahun.
Belajar dari sejarah, dimana setiap suksesi selalu diwarnai dengan pembunuhan, maka diambil kesepakatan bahwa untuk selanjutnya pemerintahan akan dipegang bersama oleh keturunan Tunggul Ametung maupun keturunan Ken Arok. Ranggawuni sebagai wakil keturunan Tunggul Ametung sebagai Raja sedangkan Mahesa Cempaka dari keturunan Ken Arok sebagai wakilnya.
Pemerintahan ini walaupun bagaikan dua ular dalam satu liang tetapi berlangsung sangat lama dibanding pemerintahan sebelumnya yaitu mulai tahun 1250 sampai dengan 1268. Setelah Ranggawuni mangkat kemudian digantikan anaknya yaitu Kertanegara mulai tahun 1268 sampai dengan 1292. Pemerintahan Kertanegara adalah pemerintahan Singosari yang paling lama, tetapi juga yang paling akhir.
Setelah Kertanegara surut, kerajaan Singosari juga bubar bersamaan dengan berdirinya kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya anak dari Dyah Lebu Tal atau cucu dari Mahesa Cempaka. Berdirinya Kerajaan Majapahit juga penuh dengan intrik politik yang menarik untuk diceritakan.
Demikianlah sejarah Kerajaan Singosari yang dimulai berdirinya tahun 1222 harus berakhir tahun 1292 atau hanya mampu bertahan selama 70 tahun. Tetapi perjalanan sejarahnya diwarnai dengan pertumpahan darah dan saling bunuh antar saudara.
Sejarah itu terekam dalam keris mpu Gandring yang dipercaya setelah membunuh Tohjaya sebagai nyawa ke tujuh kemudian menghilang. Apakah keris mpu Gandring itu menghilang selamanya atau akan muncul kembali dan mengulang sejarah perebutan tahta yang diwarnai saling bunuh antar saudara? Biarkan waktu yang akan mencatatnya.
Ternyata Ken Arok Bukan Pembunuh Tunggul Ametung
Telah bertahun-tahun saya dicekoki fakta sejarah runtuhnya kerajaan Kediri dan munculnya Kerajaan Majapahit. Masih hangat diingatan saya bagaimana guru sejarah sewaktu di SMA menceritakan bagaimana kronologis berdirinya Kerajaan Kediri hingga sampai runtuhnya yang ditandai dengan tragedy pembunuhan atas seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung.
Diceritakan bagaimana sejarah Ken Arok sebagai rakyat biasa hingga bisa menjadi seorang Maharaja yang waktu itu bisa dikatakan tidak mungkin justru Ken Arok mencatatkan sejarah tersendiri. Sampai akhirnya diceritakan bahwa untuk mewujudkan ambisinya menguasai Tumapel dan Ken Dedes sekaligus, maka ia harus membunuh Tunggul Ametung. Itu menurut guru sejarah saya yang mendasarkan teorinya itu pada sebuah buku sejarah yang terdiri dari lima jilid berjudul SEJARAH NASIONAL INDONESIA karangan Prof.Dr. Nugroho Notosusanto. Sementara kajian sejarah terakhir yang didasarkan pada Kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca dan Kitab Pararaton yang di lakukan oleh Ki J. Padmapuspita yang dituangkan dalam salah satu bukunya yang berjudul Pararaton menegaskan bahwa bukan Ken Arok pembunuh Tunggul Ametung.
Bayangkan! Satu lagi fakta sejarah terungkap. Saya tak heran kalau fakta sejarah biasa “dimodifikasi” dengan tujuan tertentu oleh suatu rejim pemerintahan. Seperti fakta sejarah tentang Supersemar misalnya, yang sengaja diubah demi kepentingan penguasa orde baru. Tak tanggung-tanggung, ahli sejarah sekelas Prof.Dr.Nugroho Notosusanto dikatakan terlibat dalam pengaburan sejarah tersebut. Tapi sejarah yang tak ada hubungannya dengan kepentingan rezim manapun haruskah ikut dikaburkan? Berikut ini akan saya sajikan sekilas tentang Legenda Ken Arok menurut kajian sejarah Ki J. Padmapuspita untuk selanjutnya bisa kita bandingkan dengan data sejarah yang terangkum dalam buku SEJARAH NASIONAL INDONESIA karangan Prof.Dr.Nugroho Notosusanto.
Pada tahun 1188 Kertajaya bertahta mennggantikan Ratu Srengga yang bergelar Sri Maharaja Kertajaya yang berjulukan Dandang Gendhis. Kertajaya mempunyai mahapatih yang sangat diandalkannya waktu itu. Mereka adalah Mpu Tanakung sebagai penasihat spiritual Kertajaya, Mahisa Walungan yang menjabat Mahapatih sekaligus adik kandung Kertajaya, Gubar Baleman dan Arya Pulung yang bergelar Tunggul Ametung. Karena kerap terjadi kerusuhan di sekitar Tumapel, maka Kertajaya mengutus Arya Pulung alias Tunggul Ametung untuk mengamankan kerusuhan yang ada disana. Setelah Tunggul Ametung berhasil meredakan kerusuhan di Tumapel, akhirnya Kertajaya mengangkat Tunggul Ametung menjadi Akuwu di Tumapel. Kemudian Tunggul Ametung mulai menata kembali Tumapel seperti sedia kala. Bahkan ada beberapa terobosan yang dilakukan oleh Tunggul Ametung di Tumapel seperti melegalkan perjudian dan menjadikan Kutaraja sebagai sentra perdagangan sehingga Tumapel menjadi semakin terkenal dan disegani oleh daerah-daerah taklukan Kediri yang lain. Bahkan bukan itu saja, Tunggul Ametung juga membangun istana di Tumapel yang dia beri nama Pakuwon. Pakuwon dilengkapi dengan benteng, taman larangan dan pernak-pernik lainnya laksana Istana Kediri.

 Untuk memperkuat diri, Tunggul Ametung merekrut pemuda-pemuda Tumapel menjadi prajurit. Tidak itu saja, Ia juga merekrut empu-empu dari luar Tumapel untuk bekerja membuat senjata dan salah satu empu tersebut adalah Empu Gandring, seorang empu terkenal dari Lulumbang. Tunggul ametung juga membuat pasukan khusus pengawal yang salah satu pemimpinnya adalah Kebo Ijo, tangan kanan Tunggul Ametung. Inilah salah satu factor nantinya yang membuat Kertajaya merasa Tunggul Ametung hendak menyainginya. Sehingga Ia merasa perlu untuk menggulingkan sang Akuwu dari tampuk kekuasaannya.
Itulah sekilas perjalanan karir seorang Tunggul Ametung. Sekarang kita beralih ke perjalanan karir tokoh utama kita yaitu Ken Arok. Ken Arok lahir dari rahim seorang ibu yang bernama Ken Endok. Nama aslinya adalah Astia, kembang dusun Pangkur nan cantik mempesona. Ia kemudian dipersunting oleh seorang Maharesi yang bernama Resi Agung Sri Yogiswara Girinata pemimpin Padepokan Girilaya yang sangat terkenal pada waktu itu. Karena selama sepuluh tahun tak pernah “disentuh”, akhirnya Ken Endok berpaling hati dengan seorang pemuda yang kebetulan menolongnya pada saat mendapat kecelakaan di hutan. Pemuda itu bernama Gajah Para. Sampai akhirnya Gajah Para difitnah telah menghamili Ken Endok karena seringnya mereka bersama. Padahal menurut kajian Ki J. Padmapuspita Ken Endok hamil oleh seorang resi cabul yang berhasil menghipnotisnya hingga tertidur dan menyetubuhi Ken Endok.
Merasa bukan dia pelakunya, Gajah Para tidak mengakui anak yang dikandung Ken Endok sehingga Ken Endok merasa malu dan lari dari Girilaya ke sebuah daerah tersembunyi. Disana Ken Endok mengakui bahwa anak yang dikandungnya itu adalah anak Dewa Brahma sehingga Ken Endok dianggap gila dan diusir dari daerah tersebut. Sesampainya di daerah pekuburan, mungkin karena sudah waktunya, akhirnya Ken Endok melahirkan bayi tersebut dan lantas meninggalkannya begitu saja di tengah pekuburan. Hingga lewatlah seorang pencuri yang bernama Ki Lembong memungut anak tersebut dan memberinya nama Temon karena anak tersebut hasil temuan. Karena salah asuhan akhirnya malah membuat Ki Lembong terjerat hutang akibat ulah Temon yang suka berjudi. Akhirnya Temon diusir oleh Ki Lembong hingga membuat dia berkelana tanpa tujuan.
Pada saat perjalanannya ke Kauman, Temon akhirnya bertemu dengan Bango Samparan, seorang Bandar judi terkenal dari Kauman. Perkenalan Temon dengan Bango Samparan sendiri berdasarkan wangsit gaib yang diterima Bango Samparan saat bersemedi di hutan Rabut Jalu karena terdesak oleh lilitan hutang. Wangsit tersebut mengatakan bahwa apabila Bango Samparan hendak menyelesaikan hutang maka hendaklah menemui seorang pemuda bernama Arok dengan tanda cakra pada telapak tangannya dan dari mulutnya keluar cahaya. Setelah Arok berhasil mengatasi kemelut keuangan, Bango Samparan akhirnya mengangkat Temon sebagai anaknya dan mengganti namanya menjadi Arok. Namun Arok akhirnya tak tahan juga hidup dengan bapak angkatnya itu karena sering dicemburuin oleh kelima anak kandung Bango Samparan. Itu juga yang akhirnya membuat Arok kembali bertualang hingga sampai ke daerah Kapundungan.
Di Kapundungan ini akhirnya Arok berkenalan dengan Tita, anak seorang kepala desa Sagenggeng. Karena keramah tamahannya selama tinggal di rumah Tita, maka Ki Sahaja,nama kepala desa tersebut, mengangkatnya sebagai anak dan memutuskan untuk membawa mereka berdua ke Tantripala, seorang guru sastra untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dari Pedokannya Ki Tantrapala inilah akhirnya Ken Arok mengenal Ken Umang yang akhirnya menjadi istrinya.
Lepas dari Padepokan Ki Tantrapala bukannya Arok menjadi semakin baik, tapi malah mereka berdua menjadi perampok. Bahkan perampok yang sangat di takuti di Tumapel. Hingga banyak perampok lain yang kebetulan berhasil dikalahkannya akhirnya bergabung dengan komplotan Arok. Sampai akhirnya komplotan Arok bertemu dengan komplotan Nyi Prenjak yang salah satu anak buahnya adalah Ken Umang. Disinilah cinta Ken Arok dan Ken Umang bersemi.
Dalam perjalanannya akhir ken Arok bertemu dengan Mpu Palot pemimpin Padepokan Tantripala. Dari Mpu Palot pula akhirnya Ken Arok berkenalan dengan Dan Hyang Lohgawe yang berasal dari Jambudwipa. Dan Hyang Lohgawe langsung datang dengan tujuan khusus hendak menemui Ken Arok yang menurut wwangsit yang dia terima bakalan menjadi Garuda kaum brahmana untuk melawan Kertajaya yang telah melecehkan kaum brahmana dengan meminta mereka untuk menyembahnya.
Atas saran Dan Hyang Lohgawe juga akhirnya Ken Arok mau menjadi prajurit Tumapel dibawah Tunggul Ametung setelah saran yang diberikannya kepada Tunggul Ametung untuk memperistri Ken Dedes putri Mpu Purwa diterima dengan baik apalagi mengingat Dan Hyang Lohgawe adalah resi terkenal dari luar negeri sehingga Tunggul Ametung tak ragu untuk mengangkatnya menjadi penasihat spiritual. Belum lagi menjadi kebanggaan tersendiri bagi Tunggul Ametung menaklukkan perompak paling menakutkan se Tumapel yaitu Ken Arok.
Saat menjadi prajurit Tumapel inilah Ken Arok akhirnya bertemu untuk pertama kali dengan Ken Dedes yang akhirnya memikat hatinya pada pandangan pertama. Hingga akhirnya Ken Arok dapat melihat sesuatu yang berkilau dari selangkangan Ken Dedes yang membuatnya tak bisa tidur. Lantas timbullah niat Ken Arok untuk suatu saat meminang Ken Dedes untuk menjadi istrinya walaupun waktu itu Ken Dedes telah mengandung anak dari Tunggul Ametung.
Tanpa sepengetahuan Tunggul Ametung, ternyata telah terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh Kebo Ijo si tangan kanan Tunggul Ametung. Secara diam-diam, Kebo Ijo melaporkan perkembangan yang terjadi di Tumapel berikut persiapan Tunggul Ametung dalam melawan kekuasaan Kertajaya. Kemudian Kertajaya mengutus Kebo Ijo untuk membunuh Tunggul Ametung dengan janji akan mengangkat Kebo Ijo menjadi Akuwu apabila Ia berhasil membunuh Tunggul Ametung. Untuk melaksanakan niatnya itu, Kebo Ijo memesan keris kepada Mpu Gandring karena tau bahwa Tunggul Ametung tak kan mampu ditembus oleh keris sembarangan. Waktu itu memang Mpu Gandring terkenal sebagai pembuat keris yang tiada tanding. Tak ada ilmu kebal yang tak dapat ditembus oleh kerisnya Mpu Gandring.
Sampai akhirnya Kertajaya melakukan pergerakan dengan tujuan hendak meluluh lantakkan Tumapel. Sepertinya Kertajaya sudah tidak sabar lagi untuk menghabisi Tunggul Ametung. Tapi usahanya ini sia-sia karena ternyata pasukan terbaik Kediri yang dipimpin oleh Gubar Baleman malah dipukul mundur oleh pasukan Tumapel yang dipimpin oleh Tunggul Ametung sendiri. Ini akhirnya menjadi pukulan tersendiri bagi Kebo Ijo dan merencanakan untuk bertindak secara diam-diam.
Akhirnya rencana itu dilaksanakan juga oleh Kebo Ijo. Pada saat pasukan Tumapel berpesta, disaat itulah Kebo Ijo memisahkan diri dan menuju Lulumbang untuk menagih kerisnya pada Mpu Gandring. Mengingat keris tersebut belum selesai dibuat, otomatis Mpu Gandring menolak untuk memberikan keris itu Pada Kebo Ijo. Apalagi Mpu gandring adalah empu yang lebih mengutamakan kualitas. Karena Mpu Gandring tetap tidak bersedia untuk memberikan keris tersebut, akhirnya peristiwa itu terjadilah. Kebo Ijo merampas keris itu dengan paksa dan menikam langsung ke tubuh Mpu Gandring sampai akhirnya Mpu Gandring mengeluarkan sumpahnya bahwa keris tersebut akan membunuh 7 raja sekaligus.
Setelah berhasil merampas keris tersebut, Kebo Ijo kembali ke Pakuwon dan langsung menemui Tunggul Ametung yang sedang mabuk. Tentu kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kebo Ijo yang langsung menancapkan keris tersebut ke tubuh Tunggul Ametung hingga tewas. Akhirnya Kebo Ijo sendiri dibunuh dengan keris itu juga oleh Ken Arok.
Setelah Ken Arok akhirnya menjadi Akuwu menggantikan Tunggul Ametung, maka dilancarkanlah serangan ke jantung kerajaan Kediri di Kutaraja oleh Ken Arok yang akhirnya dapat memukul mundur semua pasukan Kediri dan membuat Kertajaya melarikan diri. Kemudian Ken Arok diangkat menjadi raja bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabhumi. Darinyalah wangsa Rajasa dimulai, wangsa yang menjadi cikal bakal raja-raja tanah jawa. Dari Ken Dedes dia dianugerahi Anusapati sedangkan dari Ken Umang dia dianugerahi Tohjaya. Walaupun akhirnya Ken Arok harus mati ditangan Anusapati karena mendengar kabar bahwa Tohjayalah yang bakal menggantikan Ken Arok nantinya.
Melihat begitu cermatnya Ki J. Padmapuspita dalam melakukan kajian sejarahnya sehingga saya lebih cenderung memihak kepadanya ketimbang data sejarah yang lain.
Coba kita bandingkan!
Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
“Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182 - wafat: 1227/1247), adalah pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari). Ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222 - 1227 (atau 1247).
Ken Arok adalah putra Dewa Brahma dengan seorang wanita desa Pangkur bernama Ken Ndok. Oleh ibunya, bayi Ken Arok dibuang di sebuah pemakaman, hingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri & gemar berjudi, sehingga membebani Lembong dengan banyak hutang. Lembong pun mengusirnya. Ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi pula yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.
Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genukbuntu, istri tua Bango Samparan. Ia kemudian bersahabat dengan Tita, anak kepala desa Siganggeng. Keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti di seluruh kawasan Kerajaan Kadiri.
Akhirnya, Ken Arok bertemu seorang brahmana dari India bernama Lohgawe, yang datang ke tanah Jawa mencari titisan Wisnu. Dari ciri-ciri yang ditemukan, Lohgawe yakin kalau Ken Arok adalah orang yang dicarinya.
Tumapel merupakan salah satu daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Yang menjadi akuwu (setara camat zaman sekarang) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung. Atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.
Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik. Apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah Jawa. Hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes, meskipun tidak direstui Lohgawe.
Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti. Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbang (sekarang Lumbang, Pasuruan), yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.
Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun. Ken Arok tidak sabar. Lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan. Keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpu Gandring sampai tewas. Dalam sekaratnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh 7 orang, termasuk Ken Arok sendiri.
Kembali ke Tumapel, Ken Arok menjalankan rencananya untuk merebut kekuasaan Tunggul Ametung. Mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Hijo, rekan sesama pengawal. Kebo Hijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui, sehingga semua orang mengira bahwa keris itu adalah milik Kebo Hijo. Dengan demikian, siasat Ken Arok berhasil.

Malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Hijo yang sedang mabuk arak. Ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang. Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya. Namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok. Lagi pula, Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.
Pagi harinya, Kebo Hijo dihukum mati karena kerisnya ditemukan menancap pada mayat Tunggul Ametung. Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai akuwu baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes. Tidak seorang pun yang berani menentang kepustusan itu. Ken Dedes sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.
Pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja Kadiri dengan para brahmana. Para brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontakan terhadap Kadiri. Setelah mendapat dukungan mereka, Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kadiri. Sebagai raja pertama ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi
Kertajaya (dalam Pararaton disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontakan Tumapel. Ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Bhatara Siwa. Mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi Kertajaya.
Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter. Pihak Kadiri kalah. Kertajaya diberitakan naik ke alam dewa, yang mungkin merupakan bahasa kiasan untuk mati.
Ken Dedes telah melahirkan empat orang anak Ken Arok, yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya, dan Dewi Rimbu. Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang, yang telah memberinya empat orang anak pula, yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi.
Selain itu, Ken Dedes juga memiliki putra dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati

Anusapati merasa heran pada sikap Ken Arok yang seolah menganaktirikan dirinya, padahal ia merasa sebagai putra tertua. Setelah mendesak ibunya (Ken Dedes), akhirnya Anusapati mengetahui kalau dirinya memang benar-benar anak tiri. Bahkan, ia juga mengetahui kalau ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok.
Anusapati berhasil mendapatkan Keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes. Ia kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil untuk membunuh Ken Arok. Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari. Anusapati ganti membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak.
Peristiwa kematian Ken Arok dalam naskah Pararaton terjadi pada tahun 1247.”
Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/andifirmansyah